Sholawat Global Cak Nun Njiplak (Ngopi) dari Lagu Gereja dan Yahudi
Oktober 24, 2009
Oleh: A. Ahmad Hizbullah MAG
Apa jadinya jika urusan ibadah dan akidah dioplos dengan kemusyrikan, kekafiran dan komoditi seni? Lihat saja “Shalawat Global” made in Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), budayawan Jombang Jawa Timur. Shalawat ini mencuat setelah video pementasannya di depan jamaah Pengajian Tombo Ati disebarluaskan di internet.
Tampak dalam video Shalawat Global, Cak Nun dan anak buahnya berseragam putih-putih, para penyanyi pria mengenakan peci putih sedangkan wanitanya memakai jilbab putih.
Dengan wajah-wajah sumringah penuh semangat, mereka melantunkan beberapa lagu gereja yang sangat populer dengan aransemen khas gamelan Jawa. Lirik lagu-lagu gereja tersebut diubah, diarabkan dan diisi dengan shalawat nabi yang begitu populer di kalangan Nahdiyin. Dua lagu populer gereja yang dicomot Cak Nun adalah “Hevenu Shalom Aleikhem” dan lagu Natal “Joy to the World.”
Lagu “Hevenu Shalom Aleikhem” ciptaan Goldfarb, seorang Rabi Amerika Israel pada bulan Mei 1918 ini sangat populer di kalangan orang Israel maupun umat kristiani.
Sedemikian masyhurnya melodi ini di berbagai belahan dunia, sampai-sampai ada yang menganggap bahwa lagu ini adalah warisan Nabi Musa di Gunung Sinai. Bagi orang Yahudi, Shalom Aleikhem adalah lagu adat dinyanyikan pada malam Sabtu (Sabbath Yahudi) dengan sangat gembira dan penuh suka cita.
Lirik lagu ini adalah sbb: “Havenu shalom, shalom aleikhem, shalom, shalom aleikhem. Havenu shalom, shalom aleikhem, shalom, shalom aleikhem. Shalom, shalom aleikhem. Ku bawa b’rita sejahtera, damai, damai t’lah datang. Ku bawa b’rita sejahtera, damai, damai bagimu. Damai, damai bagiku.”
Oleh Cak Nun, lagu Israel ini diplagiat menjadi unsur Shalawat Global dengan mengarabkan liriknya menjadi: “Alaika salam alaikum. Alaika salam alaikum. Alaika salam, salam, salam alaikum…”
Sedangkan “Joy to the World” ciptaan Issac Watts (Inggris) tahun 1719 adalah lagu Natal yang sangat populer bagi umat Kristen, karena setiap perayaan Natal lagu ini dikumandangkan, bersama lagu natal yang lain: Malam Kudus (Silent Night), Gita Surga Bergema (Hark, The Herald Angels Sing), Jingle Bells, White Christmas, dll.
Nas kitab Mazmur 98 dipakai sebagai lirik lagu ini karena diyakini menubuatkan kedatangan Yesus Kristus (sang Mesias) dan penggenapan Perjanjian Baru, bahwa Yesus lahir untuk mati di atas kayu salib menggantikan/menebus orang berdosa. Pujian dalam lagu ini menyatakan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan yang disambut dengan penuh suka cita.
Dalam pandangan Islam, doktrin penebusan dosa oleh darah Yesus di tiang salib adalah akidah yang batil karena dua alasan utama: (1) Allah SWT menekan¬kan adanya tanggung jawab individu manusia atas segala perbuatannya masing-masing sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an: An-Najm 38-39, Al-An’am 164, Al-Isra’ 15, Al-Baqarah 123, 286, Luqman 33, Yasin 54, At-Thur 21 dll. (2) Doktrin kematian Yesus di tiang salib juga tertolak karena beliau tidak mati disalib (An-Nisa’ 157).
Oleh Cak Nun, lagu Natal yang beraroma kemusyrikan karena meniupkan doktrin Kristen ini diplagiat dalam album “Shalawat Global” dengan mengganti liriknya menjadi shalawat nabi SAW sbb: “Ya Nabi salam alaik, ya Rosul salam alaik, ya Habib salam alaik, sholawatulloh alaik… Rosulillah, sholawatulloh alaik. Rosulillah sholawatulloh alaik.”
Jejak Emha Ainun Nadjib di Gereja
Lelompok Kiai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Nadjib mengajak tiga biarawati dari Gereja Albertus Agung Jetis, Yogyakarta, bernyanyi pada peluncuran Paguyuban Huriya Maisya di Cokrodiningratan
Kalau dicermati, memang sejak sering blakrakan ke gereja di berbagai kota di Indonesia bahkan sampai ke Belanda, Italia dan Jerman, Cak Nun sangat ahli mengawinkan shalawat Nabi dengan lagu-lagu yang beraroma kemusyrikan. Dan Shalawat Global bukanlah hasil karya Cak Nun satu-satunya. Jauh sebelumnya, Sabtu malam setelah shalat tarawih (14/10/2006), dalam acara bertajuk “Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku” di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, Cak Nun dan gamelan Kiai Kanjeng melantunkan Shalawat Malam Kudus. Shalawat ini adalah hasil perpaduan (medley) antara lagu natal Malam Kudus (Silent Nigt) dengan Shalawat: “Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.”
Setahun berikutnya Cak Nun mendukung ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran Yogyakarta (8/8/2007) dengan tampil sebagai pembicara dalam dialog bertema “Membangun Habitus Kebangsaan Baru.” Di akhir acara, Cak Nun menghadiahkan lagu penutup berjudul “Hubbu Ahmadin” yang diaransemen dengan irama orkestratif gerejawi. Lagu ini dinyanyikan secara bergantian oleh Kiai Kanjeng dan tim paduan yang terdiri dari para biarawati. (Koran Seputar Indonesia, 31 Agustus 2007).
Jadi, Shalawat Global adalah lagu-lagu (Kidung Jemaat) Natal yang liriknya diganti dengan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Dengan kata lain, Shalawat Global yang di“sunnah”kan Cak Nun adalah lagu dengan irama gamelan hasil kawin-silang antara lagu Natal Yesus Kristus dengan shalawat Nabi Muhammad SAW. Maka, kalau mau jujur, lagu-lagu Cak Nun itu tidak pantas dijuluki “Shalawat Global.” Judul yang paling tepat adalah “Kidung Jemaat Gamelan Krislam,” yaitu perpaduan lagu rohani Kristen dan Islam.
Shalawat Global versus Wasiat Nabi SAW.
Shalawat Nabi adalah ibadah yang disyariatkan Allah dalam surat Al-Ahzab 56, yang lafalnya telah ditentukan Rasulullah dalam berbagai hadits shahih ada 10 macam. Shalawat yang terpendek adalah “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.” Lantas, bagaimana keabsahan Shalawat Global hasil kreasi Cak Nun yang meracik sendiri shalawat gaya baru dengan melodi lagu-lagu Natal yang mengusung doktrin ketuhanan Yesus dan penebusan dosa?
Dalam pandangan Al-Qur’an, salah satu perbuatan yang diharamkan Allah adalah mencampuradukkan haq dan batil. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” (Qs Al-Baqarah 42).
Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip ucapan Qatadah: “Janganlah kamu campuradukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan dinul Islam. Karena sesungguhnya din yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam, sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah yang bukan berasal dari Allah.”
Dengan kaidah tersebut, maka mengoplos lagu Natal gerejawi dengan shalawat Nabi sama sekali tidak dibenarkan karena termasuk mencampuradukkan tauhid (Islam) dengan kemusyrikan agama kafir.
Lantas bagaimana jika Shalawat Global itu ditujukan untuk mengekspresikan kecintaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW?
Perlu diingat bahwa apa yang dianggap baik itu tidak otomatis menjadi sebuah kebaikan. Dalam urusan agama, niat baik saja belum cukup, karena niat yang baik harus diiringi dengan perbuatan baik sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula dalam memuji dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, harus sesuai dengan aturan Nabi SAW, salah satunya adalah sabdanya berikut:
“Dari Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung aku seperti kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya” (HR Bukhari, Ahmad dan Ad-Darimi).
Secara tegas dan jelas, Rasulullah melarang penyanjungan (pujian, shalawat, dll) yang meniru-niru tradisi orang Kristen. Maka bershalawat kepada nabi dengan cara yang meniru-niru (tasyabibuh) kepada tradisi orang Kafir adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan secara agama. Bukankah meniru-niru tradisi orang kafir itu juga perbuatan yang dilarang keras oleh Allah dan rasul-Nya?
“…Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya…” (Al-Hadid 16). “Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan mereka” (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Tepatlah fatwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab “Masa’il Jahiliyah” merinci 128 perilaku dan akhlak kaum Jahiliyah yang menyelisihi Rasulullah SAW, salah satu di antaranya adalah karakter tanaqudh (kontradiktif) antara klaim dan perbuatan. Penisbatkan orang jahiliyah kepada para nabi selalu dibarengi dengan penyelisihan kepada para nabi tersebut.
Sebagian orang awam terheran-heran dengan sensasi dan kontroversi Shalawat Global rakitan Cak Nun itu.. Sementara bagi umat Islam yang berpendidikan, sepak terjang Cak Nun itu sudah ketinggalan zaman. Jauh sebelumnya, tahun 1990-an sudah beredar lagu gereja berirama lagu “Thola’al Badru.” Tahun 2000-an ada lagi Qasidah Kristiani yang mengawinkan lagu-lagu irama padang pasir dengan Kidung Jemaat kristiani. Judul lagu dalam qasidah kristiani ini pun sangat menggelitik, di antaranya: Isa Almasih Qudrotulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba’akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismirobbina, Nahmaduka Ya Allah, dll.
Jadi, Shalawat Global Cak Nun yang menjiplak Kidung Jemaat Kristen itu bukan hal baru, tapi mengekor kepada para pendeta dan penginjil sebelumnya. Ah, Cak Nun, nggombal kok cik nemene, rek? (suaraislam)
Entry Filed under: Blog. Tag: cak nun, Jahiliyah, Sholawat, Sholawat global, tasyabuh.
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. Agus Suhanto | Oktober 27, 2009 at 5:11 am
hai, senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, posting yang menarik
… lam kenal yaa
2. gie_lank18 | November 1, 2009 at 12:24 am
musik itu universal,,bahkan rasulullah Muhammad, tidak melarang bahasa Aluran untuk di ucapkan dengan berbagai dialek. Musik itu jga ciptaan ALLAH. tidak ada musik nanti yang akan masuk neraka. yang ada hanyalah, bagaimana kita membuat musik itu sebagai jalan untuk berbgai kebahagian kepada semua. Terserah itu mau lagu arab, jawa, kristen, yahudi, protestan atau apapun. Musik itu sapaan kepada sesama. Dan sangat di anjurkan sebagai bahasa pemersatu etnis dan masyarakat.
Cak nun, tidak memplagiat. Dia hanya menyapa komunitas dengan bahasa mereka melalui musik mereka. Dan sholawat pun tidak ada masalah untuk di ucapkan dengan berbagai gaya, karena esensinya sholawat adalah menunjukan cinta kita kepada Muhammad dan bukan melarang2 orang yang bersholawat. Karena lebih baik orang yang mau berbagi dengan semua dan menebarkan cinta Muhammad, daripada orang yang ada di masjid dan merasa suci bagi dirinya.
Salam..
3. zaki | November 1, 2009 at 7:38 am
Perlu diingat bahwa apa yang dianggap baik itu tidak otomatis menjadi sebuah kebaikan. Dalam urusan agama, niat baik saja belum cukup, karena niat yang baik harus diiringi dengan perbuatan baik sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula dalam memuji dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, harus sesuai dengan aturan Nabi SAW, salah satunya adalah sabdanya berikut:
“Dari Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung aku seperti kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya” (HR Bukhari, Ahmad dan Ad-Darimi).
Secara tegas dan jelas, Rasulullah melarang penyanjungan (pujian, shalawat, dll) yang meniru-niru tradisi orang Kristen. Maka bershalawat kepada nabi dengan cara yang meniru-niru (tasyabbuh) kepada tradisi orang Kafir adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan secara agama. Bukankah meniru-niru tradisi orang kafir itu juga perbuatan yang dilarang keras oleh Allah dan rasul-Nya?
“…Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya…” (Al-Hadid 16). “Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan mereka” (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Tepatlah fatwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab “Masa’il Jahiliyah” merinci 128 perilaku dan akhlak kaum Jahiliyah yang menyelisihi Rasulullah SAW, salah satu di antaranya adalah karakter tanaqudh (kontradiktif) antara klaim dan perbuatan. Penisbatkan orang jahiliyah kepada para nabi selalu dibarengi dengan penyelisihan kepada para nabi tersebut
4. info ajaran sufi | November 1, 2009 at 8:11 am
Info tentan musik bisa dibaca di http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=653 semoga manfaat
5. rojes | November 18, 2009 at 6:34 pm
Hehehee… mantab juga tulisan ini. Bravo untuk Anda. Dan saya kira Anda pun telah paham benar isi dan ajaran Yahudi, Kristen (protestan, Katholik) (?) karena bahkan Yesus pun enggan di elu-elukan. Karena yang layak hanya Allah (terserah Anda mau melafalkan Allah dengan “o” setelah “LL” ataupun “a”).
Mau mussyrik, mau sirik, mau kafir atau apa pun terserah saja. Toh Dia memang menghendaki kita (manusia) berbeda kan? Soal ayat di Al Quran atau Perjanjian Lama/Baru, saya yakin Anda lebih tahu. Hehe… Jadi biarkan saja Dia yang menentukan, karena Dia yang berhak menilai. hehe
Oia, saya ingat, ini ada link yang mungkin patut Anda baca (kalau Anda tidak merasa haram untuk menyentuhnya): http://wordpress.com
salam dari orang (mungkin) kafir menurut Anda.
6. kancil | November 21, 2009 at 3:57 am
salam kenal,,,kalau bisa jangan menghakimi mas.sebab yang berhak menghakimi adalah Gusti.Al-Quran katanya diturunkan utk mjd rahmah dan setiap orang berhak menafsirkan.tentu kalau cuma beda pendapat itu wajar.anda pernah main musik belum?pernah ketemu Cak Nun belum?pernah tau kegiatan dan sejarah Cak Nun belum?pernah sholawatan belum?coba diselidiki dulu mas.coba belajarsirah nabi.belajar tentang musik.kalau suara hewan itu musik bukan,nada bicara musik bukan,suara itu musik bukan..wallohualam
7. Sarmidin | November 22, 2009 at 7:54 pm
Nyuwun Sewu…
Aku iki tetangganya cak Nun di Jombang Mas.. sampean mbok yang Arif mas .. Jangan sedikit- sedikit memvonis orang kaya surga itu milik paman sampean aja….andaikan dulu Nabi, Shohabat dan para Auliya dakwah model KAKU kaya panjenengan,belum tentu kita wong Jowo iki jadi Muslim… mungkin isik nyembah watu,,, lha nggih Tho…??? Nuwun
8. kyai gemblung | November 26, 2009 at 10:02 pm
hehehe…. tak dukung.. bos.. entar besok.. buat yang versi “belah duren nya”JUPE…..atau versi Mbah surip di remix “Tak Gendong”……….ealaaaah, ono 2 wae…golek jeneng kok ngene to….dunyo iki wes edaaaaaaan nek ora edaaan ra kedumaaan…preeet